![]()

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi pedang bermata dua. Tak hanya memudahkan pekerjaan, AI kini telah dimanfaatkan secara nyata oleh penjahat siber untuk melancarkan serangan yang lebih canggih dan otomatis .
Dalam laporan terbarunya, ESET Threat Report H2 2025, ESET Research mengungkap temuan yang cukup meresahkan: munculnya ransomware berbasis AI pertama di dunia .
Mengenal PromptLock: Ransomware Cerdas yang Berbahaya
Laporan yang merangkum data dari Juni hingga November 2025 ini menyoroti kehadiran PromptLock. Ini adalah ransomware berbasis AI yang memiliki kemampuan membuat skrip berbahaya secara dinamis .
Yudhi Kukuh, CTO Prosperita Group, menjelaskan bahwa ini adalah pergeseran tren yang serius. “Selama ini AI sudah digunakan untuk membuat konten phishing atau scam sehingga makin hari makin tampak menyakinkan. Namun kemunculan ransomware berbasis AI seperti PromptLock menunjukkan arah ancaman yang jauh lebih serius,” ujar Yudhi .
Lonjakan Korban Ransomware dan Target Baru
Tahun 2025 menjadi tahun yang kelam bagi keamanan digital. Jumlah korban ransomware tahun ini bahkan sudah melampaui total korban sepanjang tahun 2024, dengan proyeksi kenaikan hingga 40 persen year-on-year .
Yang lebih mengkhawatirkan, target serangan kini bukan lagi hanya perusahaan besar. UKM, institusi pendidikan, layanan kesehatan, hingga individu kini menjadi sasaran empuk, terutama mereka yang minim sistem keamanan . Kelompok seperti Akira dan Qilin masih mendominasi, namun pendatang baru bernama Warlock mulai menebar ancaman dengan teknik pengelakan yang lebih licik .
Ponsel Kamu Jadi Sasaran: Ancaman NFC Meningkat
Bagi kamu yang sering menggunakan fitur NFC dan mobile banking, kamu perlu ekstra waspada. ESET mencatat adanya lonjakan serangan berbasis NFC hingga 87 persen pada paruh kedua 2025 .
Dua malware yang menjadi sorotan adalah:
- Ngate: Malware lawas yang kini berevolusi dengan fitur pencurian kontak .
- RatOn: Pendatang baru yang menyebar lewat halaman Google Play palsu. Malware ini mengombinasikan Remote Access Trojan (RAT) dengan serangan relay NFC untuk membobol layanan perbankan digital .
Deepfake dan Scam yang Kian Halus
Selain serangan teknis, penipuan berbasis rekayasa sosial juga makin sulit dibedakan. Deteksi Nomani Scam meningkat 62 persen, di mana pelaku kini menggunakan deepfake berkualitas tinggi dan situs phishing buatan AI untuk menjebak korban .
Temuan ESET ini menjadi peringatan keras bagi Indonesia yang tengah gencar melakukan transformasi digital. Risiko keamanan kini bergerak lebih cepat dan cerdas seiring adopsi AI oleh para pelaku kejahatan .
Untuk membaca laporan lengkap mengenai ancaman siber ini, kamu bisa mengakses WeLiveSecurity.com.







